Minggu, 20 Maret 2016

Strategi Mewujudkan Fantasi

Ini cerita dari salah satu klien dijakarta saat
mau mengutarakan maksut fantasinya pada istrinya
berikut ceritanya

Istri saya berusia saat ini 34 tahun namun kalau
dilihat dari postur tubuhnya yang mungil mungkin
orang akan mengira dia berusia 20 tahunan sebut
saja namanya Lia(samaran).Kulit istri saya putih
dan kalau keluar rumah biasa mengenakan
jilbab.Maklum istri saya termasuk orang yang
taat beragama.
Saya mempunyai fantasi seks melihat istri saya
disetubuhi laki-laki lain.Setiap hari saya
memikirkan cara agar fantasi saya itu bisa
terlaksana.Kalau diberitahukan akan hal ini pada
istri saya,jelas istri saya akan menolak mentah –
mentah.Namun pertengahan juli lalu saya
mendapat ide,saya akan menyuruh istri saya
berobat dengan alasan supaya dapat punya anak
lagi, kebetulan kami baru mempunyai anak satu
berumur 10 tahun.
Pada suatu malam sehabis kami bersetubuh,
saya berbincang sama istri saya sambil
tiduran.”Lia saya dapat info dari temanku kalau
istrinya yang tidak pernah hamil bisa hamil
sekarang setelah berobat ketabib”, kataku
memulai pembicaraan.”Masa sih siapa
tabibnya?”,balas istriku.”itulah kalau kamu mau
saya akan Tanya nama tabibnya,gimana!”.”Kalau
itu bisa berhasil apa salahnya kita
coba”.Akhirnya istri saya setuju untuk berobat.
Maka besoknya aku menemui temanku yang
bernama amir yang usianya sekitar 50 tahunan
namun masih kuat dan doyan ngewe.Kupilih dia
karena nantinya istriku akan percaya kalau
tabibnya sudah seumuran begitu.Singkat cerita
kuceritakan maksudku sama temanku,mulanya
dia menolak dengan alasan tidak enak sama
saya namun setelah kudesak dengan alasan saya
ingin punya anak maka dia akhirnya setuju.Maka
kumulailah susun rencana dari tempat dan
waktunya.kupilih hari minggu agar leluasa dan
kupilih tempat di wisma xxxx dijalan xxxxxx
dikota Makassar.
Sesuai rencana,hari minggu saya pergi ke wisma
yang telah kita sepakati itu.setelah sampai di
wisma tersebut, saya bertanya ke penjaga
wisama tempat teman saya cek in.penjaga
wisma menunjukan kamar yg saya maksud,lantas
saya dan istri saya menuju kamar
tersebut.”permisi pak apa benar ini kamar
praktek tabib amir?” tanyaku ke temanku setelah
saya bukakan pintu kamarnya.”oh ya betul ada
yang saya bisa bantu?”.”silahkan masuk
dulu”.setelah saya dan istri saya masuk lantas
saya menjalankan scenario yang telah saya dan
temanku susun.”Sekarang coba ibu baring
dikasur itu nanti saya akan terapi”,kata temanku
menyuruh istriku tiduran di ranjang.setelah istri
diranjang mulailah temanku terapi istri
saya.Sesuai rencana saya akan kekamar
sebelahnya untuk melihat yang terjadi tanpa istri
saya tahu.”Maaf pak saya tinggal dulu sebentar
saya mau keluar dulu beli makanan”.setelah
saya pamit juga sama istri saya, maka saya
segera keluar kamar, namun bukan cari
makanan tapi masuk kekamar sebelahnya yang
telah dipesan sebelumnya. Setelah di dalam
kamar saya mengintip ke kamar dimana istri saya
sedang “diterapi” lewat celah yang telah saya
buat sebelumnya.Kuperhatikan dengan seksama
kejadian demi kejadian didalam kamar tersebut.
Kulihat temanku lagi memegang jari kaki istri
saya.” Maaf bu bisa saya pijit semua tubuh
ibu?”.”Memangnya harus dipijit seluruh tubuh ya
pak?”.”iya bu memang cara pengobatan saya
adalah pijit totok bu”.”Tapi ibu harus ganti baju
dulu dengan kain yang telah saya sediakan yang
biasa pasien saya gunakan juga”.Tidak lama
kemudian kulihat istriku masuk kekamar mandi,
agak lama kemudian istriku keluar sudah berganti
pakaian dengan kain yang dililitkan dari atas
dada sampai betis.akemudian istriku baring
kembali.Tampak temanku mulai memijit seluruh
tubuh istri saya dari kaki sampai ke
punggungnya.Ku perhatikan perbuatan temanku
itu dengan perasaan berdebar,menanti apa yang
terjadi selanjutnya.”Bu maaf sebelumnya,saya
harus memijat kemaluan ibu karena itu termasuk
syarat pgggenyembuhannya.saya sudah bicarakan
dengan suami ibu, dan beliau tidak keberatan,
tapi jika ibu keberatan juga nggak apa-apa
namun terapi ini tidak dilanjutkan karena tidk
akan berhasil”.Nampak kulihat istri diam, tidak
lama dia berucap ”baiklah pak kalau memang itu
syaratnya