Senin, 21 September 2015

Mewujutkan Fantasiku 3some

Mewujutkan fantasiku
PPengalaman masa laluku, adalah rahasiapribadiku. Tapi secara jujur sudah kuceritakansemua kepada istriku. Tampaknya istriku penuhpengertian. Bahkan dengan tenang iamenanggapi pengakuanku, “Masih bagus mastidak main sama perempuan nakal. Jadi tidakada penyakit yang dibawa ke masa depan anak-anak kita. Yang penting mulai sekarang Masjangan macam-macam lagi ya.”Oh, Sinta memang istri yang bijaksana. Bukanhanya cantik tapi juga memiliki jiwa yang besar.Membuatku semakin mencintainya.Tapi pengalaman yang “aduhai” di masa laluku,seringkali menggodaku. Lalu mendatangkanfantasi baru. Fantasi yang ternyata banyakdikhayalkan oleh suami-suami lain. Aku masihingat benar ketika aku menyetujui keinginan Aldiuntuk gabung denganku, kemudian melakukansemuanya di villa Blue Roses. Kenangan itumelekat terus di batinku. Lalu kini berkembang.Mulai membayangkan seandainya istriku diajakmelakukan seperti waktu di villa Blue Roses.Pada mulanya aku sering berpikir apakah akuini normal atau tidak. Tapi setelah membacadari sebuah situs terkemuka di internet, katanyapikiran yang sering menggodaku ini normal-normal saja. Bahkan kata situs itu, lebih dari50% para suami suka membayangkan sepertiyang sering kubayangkan. Suka membayangkan,seandainya istri mereka disetubuhi lelaki lain.Terutama mereka yang sudah mulai dilandakejenuhan dalam rumah tangganya.Apakah aku sudah mulai jenuh pada Sinta yangsudah 10 tahun menjadi istriku dan menjadi ibudari kedua anak-anakku? Bukankah dahulu akubegitu tergila-gilanya pada Sinta, sehingga taksabar lagi ingin cepat-cepat menikahinya waktuia baru tamat SMA? Karena takut keburudisamber pria lain?Ya, tadinya Sinta adik kelasku di SMA. Waktuaku kelas 3, dia baru kelas 1. Dan aku hanyamengejar D2, lalu kerja dan cepat-cepatmenikahi Sinta yang baru lulus SMAnya.Sinta lahir dari keluarga yang cukup mapan.Sehingga ia tidak terlalu merongrong padaku,bahkan mertuaku mendorong agar akumelanjutkan kuliah sampai S1. Kerja sambilkuliah, akhirnya membuatku lumayan berhasil dikantorku. Setelah meraih S1, posisiku makinbaik di kantorku.Sinta bisa kusebut luar biasa bentuknya.Teman-temanku juga menganggapku sukses,karena berhasil mempersunting Sinta yangdemikian cantik dan seksinya. Kulitnya termasukputih bersih untuk ukuran orang Indonesia.Tubuhnya tinggi langsing, tapi payudaranyalumayan montok, dengan bra ukuran 36, yangselalu dirawat agar tetap kencang. Wajahnyarada mirip Sarah Azhari. Bahkan di mataku,Sinta lebih cantik. Kulitnya pun lebih putihdaripada kulit Sarah Azhari. Hanya hidungnyamemang tidak sebesar hidung artis seksi itu.Tapi hidung Sinta tetap tergolong mancung.Aku mau to the point mengapa aku membuattulisan ini. Sekaligus untuk sharing denganteman-teman yang memiliki kesamaan denganpengalamanku.Yang menjadi titik masalahku adalah gairahseksualku. Meskipun aku mempunyai seorangistri yang cantik dan seksi, gairah seksualkumenurun sejak setahun yang lalu. Kalau akubersenggama dengan istriku, rasanya aku sangatmemaksakan diri, mencari-cari gairah untukmemenuhi kewajibanku sebagai seorang suami.Padahal umurku baru 30 tahun, sementaraistriku baru 28 tahun.Aku sering merasa bersalah kalau tidakmemenuhi kewajiban batin pada istriku. Padahalaku tahu Sinta sangat dominan nafsu seksnya.Terkadang ia sengaja merangsangku sedemikianrupa, dengan tujuan agar aku menyetubuhinya.Lalu aku pun mengkhayalkan macam-macamsupaya gairah seksualku bangkit. Anehnyakhayalanku lain dari yang lain. Aku sukamembayangkan Sinta sedang disetubuhi oranglain. Lalu aku merasa cemburu dan darikecemburuan itu bangkitlah nafsuku. Kemudianaku berhasil membangkitkan kejantananku danmenggauli SInta sebagaimana mestinya.Aneh memang. Aku seperti mendapatkan obatyang mujarab kalau mengkhayalkan istrikusedang disetubuhi orang lain, sementara akuseakan-akan berada di dekat mereka. Kemudianhal ini berlanjut dengan kebiasaan baru. Akusuka nonton dvd bokep. Tapi setelah seringdigoda oleh khayalan aneh itu, aku jadi pilih-pilih waktu mau membeli plat dvdnya. Hanyayang 3some atau swinger yang kupilih. Yang3some, hanya MMF (male-male-female) yangkupilih. Lalu aku nikmati dvd-dvd porno itudengan membayangkan seolah-olah aku jadisalah seorang pria yang sedang menggauliwanita itu. Isteriku juga suka kuajak nontonbareng. Meski ia tidak begitu suka nonton filmporno, tapi setelah sering kupaksa akhirnya maujuga menontonnya di dalam kamarku.Waktu nonton film 3some atau bang my wifeatau swinger, pada mulanya istriku berkomentarseperti tidak suka, “Ih…masa satu perempuandikeroyok dua laki-laki begitu?!”Aku berusaha menjawab sambil memberisugesti sedikit demi sedikit, “Tapi denganthreesome begitu, semua pihak jadi puassekali.”“Maksud Mas?” Sinta memandangku dengansorot heran.“Hehehe…cewek itu pasti akan merasa lebihpuas digauli dua orang cowok daripada samasatu cowok. Lihat…dia dielus dari dua arah, jadilengkap kan? Dan hehehe…pasti lebih variatif,karena ada dua macam batang kemaluan….”“Tapi cowok-cowoknya?”“Akan lebih puas juga. Waktu temannya sedangmenyetubuhi perempuan itu, gairahnya jadibangkit lagi. Jadi yang biasanya cuma kuat satukali dalam semalam, kalau threesome begitubisa tiga atau empat kali seorang. Kalau duaorang…ya bisa sampai delapan kali atau lebihperempuan itu menerima ejakulasi partner-partnernya.”“Ihhh…” Sinta bergidik.Lalu pandangan kami tertuju ke film lain.Tentang seorang suami yang sudah tua,sementara istrinya masih muda. Judulnya juga“Please bang my wife”. Bisa ditebak sepertiapa jalan cerita film itu.Lagi-lagi istriku protes, “Kok bisa ya suami itumenyuruh orang lain menyetubuhi istrinya?”“Itulah salah satu kreativitas dalam kehidupanseksual, untuk mengatasi kejenuhan. Di zamansekarang hal seperti itu sudah lazim.”“Lazim?! Di barat kali Mas.”“Di negara kita juga sudah banyak sekali yangmelakukannya. Nanti deh kuperlihatkan sebuahsitus yang menawarkan swinger, threesome,gang bang dan sebagainya.”Kemudian kujelaskan apa yang disebut swinger,threesome, gang bang dan sebagainya. Sintaseorang pendengar yang baik. Tapi malam itu iamemperlihatkan ketidaksetujuannya padapenjelasanku, “Manusia kok aneh-aneh sih?Masa istrinya dibiarin digauli orang lain?Disaksikan sama suaminya sendiri lagi. Apasuaminya nggak cemburu?”“Tentu saja cemburu. Tapi dari cemburunya itusang suami mendapatkan sensasi. Sehingganafsunya jadi timbul secara luar biasa. Lebihhebat daripada memakai obat perangsang.”“Ih,” istriku bergidik, “Kalau aku dibegituin samaorang lain, Mas begitu juga? Jadi tambah nafsupadaku?”Pertanyaan itu agak mengejutkan. Terlalu cepatrasanya. Tapi aku berusaha menjawabnyasambil berusaha menenangkan diri, “Aku malahsering membayangkan kamu digauli pria lain.Khayalan itu memang nyebelin pada mulanya.Tapi anehnya, setelah membayangkan hal itu,nafsuku jadi timbul, sayang.”Sinta menatapku dengan sorot penuh selidik,“Nggak salah tuh? Jangan memancingpertengkaran ah. Kita kan sudah sepakat tidakmau bertengkar lagi, demi ketentraman anak-anak kita.”Aku tersenyum. Kupeluk pinggangnya, lalukuelus rambutnya sambil berbisik, “Aku serius,sayang. Hidup di zaman sekarang memangharus kreatif. Jangan berjiwa kampungan.”“Maksud Mas? Mau ikut-ikutan seperti di filmitu? Terus hubungan kita jadi rusak dan anak-anak jadi korban, begitu?”Susah sekali meyakinkan istriku agar mengikutijalan pikiranku. Padahal biasanya ia penurut,senantiasa mengikuti jalan pikiranku. Tapiseperti yang kubaca dari sebuah situs, halseperti ini memang perlu waktu. Janganmemaksakan kehendak. Semuanya harusberjalan tenang dan smoothly.Tapi diam-diam kubujuk terus istriku agar maumengikuti apa yang senantiasa menggodapikiranku. Jawabannya malah semakin tegas,“Nggak ah. Jangan ngaco Mas. Mungkin Massudah bosan padaku dan ingin dapat izin untukselingkuh dengan cewek lain kan? Buang sajajauh-jauh pikiran edan itu Mas. Ingat akibatnyananti.”Aku terhenyak. Tapi aku masih punya senjata.Dengan membelai rambutnya secara lembut danberkata setengah berbisik, “Kamu salah paham,sayang. Fokusnya bukan seperti itu. Aku inginmendapatkan manfaat yang fantastis darikeinginan itu. Sungguh, aku akan tetapmencintaimu dengan sepenuh hati. Aku berjanjibahwa aku justru akan semakin mencintaimu,sayangku, buah hatiku, permataku….”Sinta hanya menatapklu dengan sorot nanar.Lalu memelukku, tanpa kata-kata terlontar lagidari mulutnya. Aku pun tak mau mendesakterus. Biarlah semuanya berjalan secara santai.Jangan ada unsur pemaksaan.Tapi diam-diam aku pun semakin aktifmengcopy kisah-kisah dan pengakuan dari parapelaku swinger maupun threesome. Semuanyakusimpan di komputerku yang bisa selalu onlineke internet di dalam kamarku. Dan pada suatupagi, sebelum aku berangkat ke kantor, kubisikiistriku, “Nanti bacalah semua salinan dari situsterkenal itu. Aku sudah saving di file dengankode MMF. Minimal pelajari dulu, supaya kamumulai mengerti, Yang.”Istriku tidak menjawab. Tapi sorenya, setelahaku pulang dari kantor dan sedang menikmatikopi panas di depan TV, Sinta menghampiriku disofa. Duduk di sampingku sambil menyandarkankepalanya di bahuku. Dan berkata, “Tadi sudahkubaca semuanya Mas.”“File MMF itu?” tanyaku dengan jantung deg-degan, karena ingin tahu reaksinya.“Iya,” sahut istriku perlahan, “Ternyata sudahbanyak yang melakukan itu, ya Mas. Hampir disemua kota besar di negara kita sudah adaclubnya.”“Iya. Dan kisah-kisah nyatanya sudah dibacajuga?”“Sudah. Ih…bikin aku degdegan bacanya.”“Sekarang mari kita bicara jujur. Kamuterangsang nggak waktu membaca kisah-kisahnyata itu?” tanyaku sambil memperhatikanwajah istriku.“Iya sih…terangsang banget….membayangkandua orang cowok me…ah…pokoknya terangsangMas. Tapi Mas nggak marah kan?”“Kenapa harus marah? Kan semuanya itu akuyang mulai, aku yang menginginkannya, karenasudah lama aku mengkhayalkannya.”“Terus?”“Sekarang ya terserah kamu, sayang. Aku nggakmau main paksa. Aku ingin agar seandainya halitu terjadi, tidak ada yang merasa dipaksa.”“Dan tidak boleh ada yang menyesal?!” Sintamenatapku dengan senyum malu-malu.“Aku jamin, sayang. Kamu buktikan sendirinanti, aku malah akan semakin sayangpadamu.”Istriku terdiam. Kuelus pipinya dengan lembut,“Sudah mulai mengerti apa yang kuinginkan?”“Nggak tau Mas. Aku takut akibatnya. Lagianemang ada orang yang mau kita ajak?”“Ada. Dijamin ada. Orangnya dijamin bersih.Tampan dan intelektual. Bukan orang urakan.”“Lho…kok sepertinya sudah dipersiapkansematang itu, Mas?”“Mmm…tadinya dia itu teman chatting. Diaorang baik. Sering datang ke kantorku. Diasudah 26 tahun, tapi masih bujangan. Diatrauma, karena pacarnya meninggal ketika diasedang siap-siap mau menikahi cewek itu.”“Kenapa meninggal? Kecelakaan?”“Bukan. Kena kanker hati. Dibawa keSingapura, tapi tetap tidak tertolong.”“Terus…emangnya Mas sudah janjian samadia?”“Baru diajak ngobrol sepintas saja. Dia cepatmengerti, karena pernah kuliah di Amerika. Diabilang, di Amerika hal seperti itu sudah biasa.Padahal sebenarnya di negara kita juga sudahbanyak yang melakukannya.”Sinta terdiam. Ketika aku bertanya mengenaikeputusannya, ia cuma berkata perlahan,“Nggak tau Mas. Aku masih takut…masih harusdipikirkan dulu baik buruknya.”“Baiklah,” kataku sambil membelai rambutnya,“Pikirkan dulu sematang-matangnya. Yang jelas,aku menganggap hal itu positif. Sangat positif,demi keutuhan hubungan kita. Bukansebaliknya.”“Kedengarannya rada aneh memang. Demikeutuhan hubungan kita, tapi jalannya sepertiitu,” kata istriku dengan nada dingin.“Karena aku bisa memiliki khayalan yangfantastis. Lebih kuat daripada obat perangsang.Ini akan menimbulkan gairah yang luar biasa,baik bagiku maupun bagimu.”Hari itu tidak ada keputusan. Keesokannyakudesak lagi istriku. Lalu ia berkata, “Kalau softdulu bagaimana Mas? Jangan langsung…soalnya aku masih risih sekali.”“Boleh,” sahutku gembira. Minimal sudah ada“kemajuan” dalam pendirian istriku. “Misalnyaciuman saja dulu. Kalau kamu merasa kurangenjoy, ya jangan dilanjutkan.”“Tapi Mas…jujur aja, aku belum bisangebayangin apa yang bakal terjadi nanti.Jangan-jangan aku pingsan sebelum ketemuanorang itu.”“Hmmm…jangan takut, sayang. Kan ada aku disampingmu,” kataku sambil mengeluspunggungnya.“Justru aku nggak bisa bayangin dipeluk…dicium dan sebagainya oleh laki-laki lain, didepan suamiku sendiri.”“Yah…di situlah kita harus sama-sama tegar,demi sesuatu yang lebih bermanfaat buat batinkita.”—-XXXXXXXXXXXXXX—-BARU sampai di situ isi file “Istri Tercinta” itu.Jelas file itu belum selesai, kalau Mas Toni maumenyelesaikannya. Karena aku paling tahu apayang telah terjadi. Isi file itu baru awalnya,awalnya sekali.Setelah membaca kisah nyata yang belumselesai itu, aku pun jadi tercenung dibuatnya.Terbayang lagi semuanya dengan jelas dipelupuk batinku. Sangat jelas, karena itu awaldari suatu perjalanan yang tadinya kuanggapaneh, tapi lalu aku berusaha membiasakan diri.Dan lama kelamaan jadi suatu tuntutan batin,untuk melakukannya lagi dan lagi dan lagi.Oh, kenapa aku harus mengalami kisah hidupseperti ini? Tapi, apakah aku bisa disalahkan?Bukan aku membela diri. Semua yang terjadi ituadalah untuk mengikuti keinginan suamiku.Tadinya aku malah tak pernah membayangkanakan terjadi seperti itu.Aku masih ingat benar, sore itu aku masuk kedalam hotel dengan jantung berdegup kencang.Mas Toni yang mengatur semuanya itu. “Kitaharus datang duluan, supaya kamu tidak terlalucanggung, sayang.”Kalau tidak salah jam 18.30 aku dan suamikusudah berada di dalam kamar hotel five star itu.Di kamar yang terletak di lantai 16. Padahal MasToni sendiri yang bilang bahwa janjinya denganorang itu jam 19.30. Berarti harus menunggusejam.Aku menurut saja ketika suamiku menyuruhkumengganti pakaian dengan kimono yang dibawadari rumah. “Biar lebih seksi,” katanya dengansenyum menggoda.Kucubit lengan suamiku dengan jantungberdebar-debar. Lalu masuk ke kamar mandiuntuk mengganti celana panjang dan blousedengan kimono sutra putih bercorak sakura birumuda. Anehnya, di kamar mandi aku merasaharus menanggalkan behaku. Lalumenggantungkannya di kapstok kamar mandi.Apakah ini pertanda bahwa aku sudah siapmelakukan apa yang Mas Toni inginkan?Entahlah. Ketemu sama orangnya juga belum.Waktu aku masih di kamar mandi, terdengarsuara Mas Toni berbicara dengan seorang pria.Dengan siapa ya? Dengan bell boy? Tapikedengarannya mereka cukup akrab.Membuatku penasaran. Lalu aku mengintip daripintu kamar mandi yang kubukakan sedikit. Adaseorang cowok tinggi dan tampan sedangberbicara dengan Mas Toni. Ah…itukah orangyang sudah dijanjikan oleh suamiku? Orangnyasetampan itu? Ah…kenapa dia sudah datangsecepat ini? Bukankah janjiannya sejam lagi?Lututku terasa gemetaran. Dengan perasaanbergalau.“Sin…ini Yan sudah datang!” seru suamiku.Yang kusahut dengan “Iya,” sambil berkacasebentar di depan cermin kamar mandi. Denganjantung semakin degdegan.Duh, apa yang akan terjadi nanti? Kenapa akumendadak jadi grogi begini?Aku keluar dari kamar mandi. Menghampirisuamiku dan tamunya yang…ah…benar-benartampan orang itu!“Kenalan dulu sayang,” kata suamiku sambilmemegang bahuku.Cowok yang kata suamiku sudah berusia 26tahun, tapi kelihatan jauh lebih muda,menjulurkan tangannya dengan senyumsimpatik, sambil menyebutkan namanya,“Yansen….”“Sinta…” kataku mengenalkan diri, dengansuara tersendat.Dan…tanganku yang sedang dijabat olehYansen tidak dilepaskan. Bahkan ia menarikkuuntuk duduk di sofa panjang, sementarasuamiku duduk di kursi lain sambil menggoyang-goyang kakinya.“Cantik kan istriku?” kata Mas Toni.Yansen yang masih memegang tanganku denganhangatnya, menatapku dengan senyum danberdesis, “Iya Mas. Cantik sekali…”Aku tersipu-sipu dibuatnya. Harusnyakutanggapi bahwa dia pun tampan sekali.Belakangan aku tahu bahwa Yansen itublasteran Menado dengan Belanda. Pantaslahtampang dan postur tubuhnya sebagus itu.Belakangan juga aku tahu bahwa kamar di hotelmahal itu dibayar oleh Yansen.“Mas, di kulkas hotel ini suka ada minuman,silahkan ambil sendiri,” kata Yansen sambilmenunjuk ke kulkas di kamar hotel berbintanglima itu.Suamiku mengangguk, lalu melangkah ke arahkulkas itu. Sementara tangan Yansen sudahbukan memegang tanganku lagi, melainkanmenyelinap ke belakang dan memelukpinggangku. Ini membuatku semakin degdegan.Apakah aku tergerak dengan semuanya ini? Ya,aku harus mengakuinya secara jujur. Tapi akujadi begini gugupnya. Sementara harum khasparfum buat lelaki, tersiar ke penciumanku.“Hebat,” seru suamiku sambil mengeluarkanbeberapa botol minuman dari kulkas. Adachivas regal, martini, tequila dan tiga sloki.“Ayang suka ini kan?” kata suamiku sambilmendekatkan botol Martini ke dekatku. DI depanorang lain Mas Toni suka memanggilku dengansebutan “ayang”, sebagai tanda menghargaiku.“Tapi tequila lebih bagus,” kata Yansen, “Bikinsemangat.”aku pernah mendengar bahwa tequila bisamembuat wanita jadi horny. Tapi aku belumpernah mencobanya. Aku memang bukanpeminum, tapi sesekali bolehlah. Apalagi saatitu aku merasa butuh keseimbangan, mungkinbisa dibantu oleh minuman.“Iya Mas. Aku ingin nyoba tequila,” katakusambil berusaha menenangkan diri.“Aku chivas regal aja, biar kerasa greng,” katasuamiku.“Aku juga chivas, Mas,” kata Yansen sambilmencium pipiku tanpa ragu. Aku terkejut. Tapidiam saja. Bahkan…aduh, aneh, tubuhku terasalemas mendapatkan kecupan ini. Tapi haruskuakui sejujurnya, lemasnya ini karena belenggubirahi yang mulai mencuat di dalam batinku.Dan setelah minum tequila, dinginnya AC tidakterasa lagi. Kecanggunganku juga mulai cair.Tapi tetap saja ada degdegan di dada, karenamakin lama Yansen makin merapatkan duduknyake tubuhku, sementara Mas Toni malahmenyalakan TV, dengan botol minuman didepannya dan sloki yang sudah hampir kosongdi tangannya. Aku mencuri pandang berkali-kalike arah suamiku yang sedang memandang kearah TV, dengan perasaan bersalah. Karenatangan Yansen mulai menyelinap ke balikbelahan kimonoku di bagian dada. Pasti Yansentahu bahwa aku tak memakai beha di balikkimono sutra ini. Dan ketika tangannyamemegang payudaraku dengan lembut, oooh,aku benar-benar sudah runtuh !Desir darahku sudah mulai merajalela dalamarus birahi yang tak terkendalikan. Tapi sebagaiseorang wanita, aku masih menyembunyikanhasrat ini. Aku hanya membiarkan buah dadakumulai diremas dengan lembut oleh belia tampanitu, sementara bibirnya berkali-kali mengecuppipiku. Aku juga tahu suhu badanku mulaimeningkat.“Mas Toni,” kata Yansen pada suatu saat,“Mungkin lebih baik kalau lampunya dimatiindulu, supaya kami tidak canggung. Nanti bisadinyalakan lagi…kalau Mas setuju.”“Iya, iya…” suamiku menjulurkan tangannya kesakelar lampu yang tidak begitu jauh darinya.Lalu klik….lampu di kamar mewah ini pun mati.Hanya layar TV LCD yang masih membersitkancahaya remang-remang.Usul Yansen bagus sekali.Karena setelahdigelapkan, aku pun tidak merasa rikuh lagi.Bahkan ketika bibirnya mencium bibirku,kusambut dengan lumatan penuh gairah.Sungguh, baru sekali inilah aku sangat bergairahuntuk saling lumat bibir dan saling julurkanlidah. Maka tanpa ragu-ragu lagi aku mulaimemeluk Yansen erat-erat, terkadangbercampur dengan remasan bergelora.Tapi…oh…jiwaku semakin diamuk nafsu, karenatangan Yansen mulai merayapi lutut danpahaku. Rasanya aku makin sulit bernafas. Sulitmenahan gelora nafsu di dalam jiwaku. Anehmemang, elusan di pahaku terasa beginimembangkitkan. Terlebih setelah menyelinap kebalik celana dalamku…mulai meraba-rabakemaluanku yang sudah mulai merekah danmembasah. Mulai mengelus bibir kemaluanku,kelentitku dan ah…ini membuatku semakintergetar dalam arus birahi yang semakinmerajalela. Terlebih ketika jemari nakal itu mulaimenyelinap ke dalam celah vaginaku, lalubergerak-gerak binal di dalam liang memekku,ah, rasanya tak tahan lagi aku dibuatnya. Akusudah kepengen merasakan kejantanan. Tapiaku harus menahan diri. Kubiarkan saja tanganYansen mempermainkan liang memekku.Bahkan kubiarkan juga celana dalamku ditariksampai terlepas dari kakiku. Berarti di balikkimono ini aku tidak mengenakan apa-apa lagi.“Minta lagi tequilanya, Yan,” bisikku. Yanmengangguk, lalu menuangkan tequila keslokiku. Kuteguk setengahnya. Lalu aku merasasemakin bergairah. Sesekali aku melirik ke arahMas Toni yang masih tampak di keremangan,masih asyik menonton TV. Lalu kubiarkan tanganYansen mengelus dan mencolek-colekkemaluanku lagi. Bahkan seperti pencuri yangmemanfaatkan kelengahan calon korban, diam-diam tanganku mulai menarik celana Yansen.Lalu menyelinap ke balik celana dalamnya.Berdegup jantungku dibuatnya, karena akusedang memegang batang kemaluan yangbegini besar dan panjangnya…sudah keras danhangat pula ! Secara jujur harus kuakui, batangkemaluan Yansen jauh lebih besar dan panjangdaripada punya Mas Toni.Ini membuatku semakin bernafsu. Tanpa ragulagi tanganku mulai meremas dan mengeluszakar Yansen dengan lembut. Diam-diamYansen pun mulai menanggalkan celana panjangdan celana dalamnya.Dan aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan,ketika Yansen melepaskan ikatan tali kimonoku,lalu dengan hangat mencelucupi putingpayudaraku. Aku menggeliat dan merebahkandiri, terlentang di sofa panjang yang ukurannyahampir sama dengan bed nomor 3 itu.Tapi jilatan dan sedotan Yansen tak terbataspada puting payudaraku saja. Ia menjilatileherku. Lalu melumat bibirku, yang kusambutdengan lumatan hangat juga. Lalu turun lagi,dengan gigitan-gigitan lembut di payu daraku.Dengan jilatan-jilatan hangat di pusar perutku…dan turun terus…mulai menjilati kemaluanku.Oh, aku tak kuat menahan nafsu birahiku. JilatanYansen memang enak sekali. Membuat sekujurtubuhku sering mengejang dan menggeliat.Aku tak kuat lagi. Ingin segera merasakanpersetubuhan yang sebenarnya. Maka kucubit-cubit bahu Yansen, sebagai isyarat agar diamenghentikan jilatannya, lalu mulai denganpersetubuhan yang sebenarnya. Tapi bagaimanadengan suamiku yang tampak masih asyikmenikmati minumannya?Yansen mengerti apa yang kuinginkan. Iamerayap ke atas tubuhku, sambil meletakkanpuncak “pohon jamur”nya di antara sepasangbibir kemaluanku. Dan sebelum melakukanpenetrasi, Yansen berkata, “Silakan nyalakanMas…”Aku terkejut. Tak menyangka Yansen akan mintaditerangin lagi. Padahal aku sedang di puncakhasrat birahiku. Dan kamar ini jadi terangkembali. Tepat pada saat Yansen tinggalmendorong saja batang kemaluannya yangsudah siap di mulut memekku.“Mas…mohon izin…” kata Yansen sambilmenoleh ke arah suamiku.Aku juga menatap suamiku, seolah-olah mintaizin juga.Mas Toni menghampiri kami. Mengelus pipikusambil tersenyum, “Ya, lakukanlah. Ini rahasiakita bertiga. Orang luar takkan ada yang tahu.”Tanpa basa basi lagi Yansen mendesakkanbatang kemaluannya yang panjang gede itu.Perlahan-lahan terasa liang kenikmatankuditerobos batang kemaluan yang jauh lebihbesar daripada batang kemaluan suamiku.Membuatku terengah dan memegangpergelangan tangan Mas Toni erat-erat. Oh…iniadalah pertama kalinya memekku dimasukibatang kemaluan orang selain suamiku sendiri!Tapi Mas Toni malah tersenyum dan berkata,“Nikmati saja. Ini kan keinginan aku, sayang.Jangan kaku…lebih hot lebih bagus.”Lalu suamiku duduk lagi di kursi depan TV,sambil menyaksikan kejadian yang sedangkualami. Apakah aku mulai dipengaruhi tequilayang kuminum tadi, ataukah memang gairahbirahiku sedang memuncak, atau karena ukuranbatang kemaluan Yansen yang aduhai…entahlah. Yang jelas aku mulai menikmatinya.Mulai merasakan enaknya ayunan batangkemaluan Yansen, yang begitu mantap danterasa sekali begitu kuatnya menggesek-gesekdinding liang memekku. Oh, ini membuatkumulai mendesah-desah histeris…aaaah….oooh…aaah….oooh….aaaah….Lebih enak lagi ketika Yansen mulai mengemutputing payudaraku, menyedot-nyedot danmenjilatinya, sementara batang kemaluannyademikian mantap mengentot memekku.Tak peduli lagi dengan kehadiran suamiku, makaterlontar begitu saja celotehan histeris darimulutku yang sedang diamuk kenikmatan,“Oo….Yan…ooo….ini enak sekaliYan….aaaah….terus genjot jangan brenti-brentiYan…ooooh….”Ketika aku melirik ke arah Mas Toni, malahkulihat suamiku mengacungkan jempolnya.Mungkin ia sangat terangsang dengan apa yangsedang kulakukan dengan Yansen yang tampandan perkasa ini. Maka tanpa ragu lagi aku punmulai mengayun pinggulku.Rasanya Yansen sangat memperhatikan titik-titikkenikmatan seorang wanita. Waktu mengayunbatang kemaluannya, bibir dan tangannya puntiada hentinya menyelusuri titik-titik peka ditubuhku. Terkadang ia menggigit daun telingakudengan lembut, kadang-kadang juga menjilatilubang telingaku, lalu menggigit-gigit kecil dileher dan buah dadaku, lalu melumat bibirkukembali, sementara batang kamaluannya benar-benar perkasa bergerak maju mundur denganmantapnya di dalam liang memekku.Aku jadi merasa punya tempat pelampiasan.Sambil mendekap pinggang Yansen erat-erat,kulumat bibir cowok tampan itu.Aneh memang. Berciuman dengan Yansenterasa indah sekali. Malah lebih indah daripadaberciuman di masa remajaku dengan Mas Tonidulu.Semuanya membuatku lupa daratan. Salinglumat bibir dan lidah, sehingga tak peduli lagidengan air ludah yang bertukar-tukar tampat,sambil saling dekap erat dan hangat, sementaramemekku dienjot terus dengan mantapnya olehbatang kemaluan Yansen yang “giant size” itu.Aku malah dibuat lupa bahwa di kamar mewahitu ada suamiku yang sedang menyaksikansemuanya ini. Soalnya gesekan batangkemaluan Yansen yang begitu terasamendenyut-denyutkan kenikmatanku telahmembuatku seolah tiada orang ketiga di kamarini.Lagian aku teringat pada ucapan suamikusendiri sebelum Yansen datang tadi, “Lakukansemuanya seseksi mungkin. Semakin kelihatanbergairah, akan semakin positif pengaruhnyabagi jiwaku.”Jadi, salahkah kalau aku menikmati semuanyaini demi kepuasanku dan demi keinginansuamiku sendiri?Tapi terlalu enaknya geseran batang kemaluanYansen, ditambah dengan saling lumat bibir dansaling remas dengan hangat dan gairah birahiyang terlalu dahsyat ini, membuatku cepatmencapai titik orgasme…membuatku mengejangsambil merasakan puncak kenikmatan darihubungan seksual yang aduhai ini. Maka akupun mengejang, menahan napas dan memelukpinggang Yansen seerat-eratnya. Lalu terasaliang memekku berkedut-kedut. Ini orgasmekuyang aduhai. Tapi aku tidak maumembisikkannya kepada Yansen bahwa akusudah mencapai orgasme, karena malu.Hanya saja aku jadi terdiam dalam lunglai dankepuasan. Sementara batang kemaluan Yansenjadi lancar bergerak maju mundur di dalam liangmemekku yang sudah mulai basah oleh lendirkenikmatanku.Dalam kondisi yang masih lesu, tapi gairahmasih berkobar, aku baru teringat pada suamikuyang sedang memperhatikan gerak-gerikkusambil tersenyum-senyum. Aku jadi merasakasihan juga padanya. Lalu kulambaikantanganku agar ia mendekat.Mas Toni mendekatiku. Tanganku menjulur danmrnarik-narik ritsleting celananya. Ia mengertiapa tujuanku. Disembulkannya batangkemaluannya dari belahan celananya.Sudah keras sekali! Lalu kutarik ke arahmulutku.Mas Toni jadi pindah untuk mencapai tujuanku.Dia jadi berlutut dengan kaki berada di kirikanan kepalaku. Sementara Yansenmengentotku sambil menahan badan dengankedua tangannya.Aku berhasil menarik batang kemaluan Mas Tonike dalam mulutku. Akupuin mulai menjilati danmenyedot-nyedot batang kemaluan Mas Toni. Iniadalah pertama kalinya aku meladeni dua orangpria sekaligus.Bukan main…aku jadi sibuk tapi nikmatnya luarbiasa.Gesekan-gesekan batang kemaluanYansen yang makin gencar mengentotmemekku, membuatku terengah-engah dalamnikmat. Lalu kulampiaskan ke arah zakarsuamiku, dengan menyelomotinya seedanmungkin.Sungguh aku tak menduga akan mengalamiperistiwa yang luar biasa bergairahnya ini. Tapisayang sekali, baru beberapa menit kuselomotibatang kemaluan Mas Toni, lalu terasamenyembur-nyemburkan air mani di dalammulutku! Mungkin ia sangat terangsang melihatpersetubuhanku dengan Yansen, sehingga cepatsekali ia mengalami ejakulasi. Tanpa banyakprotes, kutelan seluruh cairan kental dari batangkemaluan suamiku ini. Tak kusisakan setetespun.Supaya tidak mendatangkan kesan kurang enak,aku minta tequila lagi. Suamiku menurutipermintaanku. Kuminta agar Yansen mencabutdulu batang kemaluannya dari memekku. Lalukuteguk tequila di slokiku sekaligus. Gairahkusemakin menjadi-jadi setelah minum tequilayang konon dibuat dari sari buah nanas itu.Aku mengajak Yansen pindah ke atas tempattidur. Yansen setuju. Sementara suamikumerebahkan diri di sofa panjang itu. Pastikarena lemas setelah ejakulasi tadi.“Tukar posisi ya,” kataku sambil mendorongdada Yansen agar menelentang di kasur.Yansen tersenyum dan mengikuti kehendakku.Kemudian aku merayap ke atas tubuhnya.Memegang batang kemaluannya sambilmengarahkan ke mulut vaginaku.Dengan gairah yang makin menggila, akumenurunkan pinggulku, sehingga batangkemaluan Yansen membenam ke dalam liangkenikmatanku.Aku menjatuhkan diri ke dada Yansen, sehinggapayudaraku terasa mendesak dadanya yangbidang dan atletis.Seperti serigala lapar, aku dengan edanmengayun pinggulku, naik turun dan meliuk-liuk,sehingga liang memekku seperti membesot-besot batang kemaluan Yansen…membuatYansen ternganga-nganga mungkin karenamerasa enaknya besotan liang vaginaku. Tapikututup mulut Yansen dengan ciuman hangatku,yang lalu menjadi luamatan penuh gairah. Akusudah minum tequila lagi tadi, membuatku yakintakkan ada bau kurang sedap tersiar darimulutku. Dalam posisi seperti ini, terasa buahpinggulku diremas-remas oleh Yansen,membuatku tambah bersemangat untukmengayun pantatku dengan gerakan yang erotis,terkadang gerakan pinggulku seperti angka 8.Aku tak peduli lagi siapa diriku dan siapa lelakimuda yang sedang bersetubuh denganku.Mungkin Mas Toni benar, seperti yang diungkapdalam file pribadinya itu, bahwa aku ini padadasarnya memiliki nafsu besar. Hanya akusering menyembunyikannya, karena aku iniseorang wanita.Gilanya, Yansen belum ejakulasi juga. Padahalaku sudah 3 kali merasakan orgasme.“Kamu minum obat kuat?” bisikku terengah,tanpa menghentikan ayunan pinggulku.“Nggak. Swear…nggak pernah menyentuh obatkuat segala macam…” sahut Yansen sambilmenciumi puting payudaraku.“Kamu kuat sekali sayang….kalau begini bisaketagihan aku nanti…” bisikku pelan, takutkedengaran sama Mas Toni.“Emang biasanya suka berapa jam?”“Nanti deh kuceritakan. aku memang lain dariyang lain…oooh….memekmu enak sekaliMbak….aku pasti ketagihan nih…” Yansenterpejam-pejam ketika liang memekkumembesot dengan kencang. Ini sebenarnyauntuk kenikmatanku juga.Karena makin kencang aku membesotnya, makinenak juga rasanya buatku.Aku tidak tahu apa yang ia maksud dengan “laindari yang lain”. Aku cuma merasa ia terlalutangguh, sehingga aku harus berjuang kerasuntuk membuatnya ejakulasi. Maka besotan-besotan liang vaginaku juga semakin kupergila.Tapi akibatnya…aku malah orgasme lagi untukyang kesekian kalinya. Gila, belum pernah akumengalami persetubuhan seedan ini.Padahalkeringat Yansen sudah membasahi tubuhnya,berbaur dengan keringatku.Yansen malah seperti menyukai keringat yangmembasahi leherku. Ia pun menjilati keringat dileherku, membuatku merinding dalam nikmat.Sungguh…tak pernah kubayangkan bahwa idesuamiku telah memberikan kenikmatan yangaduhai begini.Kelopak mataku juga tak luput dari kecupan danjilatannya. Sehingga aku makin bersemangatuntuk mengayun pinggulku, tanpamempedulikan suamiku yang sudah terkapar disofa.Batang kemaluan Yansen yang begitupanjangnya, membuat ujung liang memekkudisundul-sundul terus. Sungguh fantastisrasanya, karena puranaku (seperti cincin yangberada di ujung liang vagina) disundul-sundulterus, membuatku merem melek dalam nikmatyang sulit kulukiskan dengan kata-kata.Yansen sendiri sering membisikiku, “Mbak…oooh…Mbak enak sekali….luar biasaenaknya….”Aku sendiri seolah melayang-layang di langityang ke tujuh saking nikmatnya. Sehinggaterkadang aku meremas setengah mencakar-cakar bahu Yansen dalam keadaan lupadaratan.Begitu lama Yansen menyetubuhiku, sehinggaaku merasa berkali-kali orgasme, tapi aku tidakmengatakannya, karena malu mengakui bahwasemuanya ini terlalu nikmat bagiku.Sampai pada satu saat, Yansen membisikitelingaku, pelan sekali, seperti takut terdengaroleh suamiku: “Aku mau lepas…gakpapa kalaukulepasin di dalam?”Aku malah menjawabnya dengan spontan, “Iya,lepasin di dalam aja biar enak.”Lalu kugoyang pinggulku seedan mungkin. Danpada satu saat Yansen menekankan batangkemaluannya sedalam mungkin, sampai akuterbeliak dalam arus birahi yang fantastis. Danbatang kemaluan perkasa itu terasa mengejut-ngejut di dalam liang vaginaku, sambilmenyemprot-nyemprotkan cairan hangat dankental…srrrt…srrrt…srrttttt…srttttt…..oooh enaksekali semburan air mani Yansen ini. Rasanyabaru sekali ini aku meresapi arti nikmatnyabersetubuh,bukan dengan suamiku pula,sehingga aku mendekap pinggang Yansendengan penuh perasaan. Dan membiarkankeringatnya membanjiri tubuhku. Air maninyapun terasa meluap, meleleh dari memekku keseprai. Begitu banyak dia memuntahkan airmaninya.Oh, indahnya malam yang penuh birahiini…..seakan takkan berujung…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar