
Kejadian ini ketika saya masih berumur 25 tahun, yaitu saat saya
bekerja disebuah kantor yang bergerak di bIdang pemrograman komputer.
Saya bekerja untuk menunjang biaya kuliah dan hidup saya di Jakarta.
Tapi setelah kurang lebih satu tahun saya bekerja, kantor dimana saya
bekerja gulung tikar karena persaingan yang sangat ketat dikota yang
besar ini. Setelah beberapa bulan saya menjadi ‘pengacara’ (pengangguran
banyak acara) dan sudah mengirimkan banyak sekali surat lamaran tapi
saya tetap belum mendapat pekerjaan. Sewaktu saya membaca lowongan kerja
yang ada disebuah surat kabar, saya juga membaca iklan yang isinya
semua panti pijat, yang menurut perkiraan saya hanya sekedar kedok dari
para penjaja sex. Setelah melihat iklan tersebut timbul niat iseng saya
untuk mencoba ikut berpartisipasi memasang iklan dikolom panti pijat
tersebut. Kemudian saya langsung memasang iklan melalui biro iklan yang
ada disekitar tempat saya untuk diterbitkan keesokan harinya.

Pagi hari saya membeli koran dimana saya memasang iklan tersebut dan
sambil senyum-senyum saya membaca iklan milik saya sendiri. Sekitar jam
10. 00 lebih HP saya berdering dan langsung saya terima.
“Hallo”Kata saya.
“Hallo. Apa betul anda memasang iklan dikoran untuk menerima jasa memijit?”Jawab wanita yang ada diujung telepon.
“Ya betul saya Ferry. Saya berbicara dengan siapa ya?”Tanya saya lagi.
“Saya Tante Mei, saya mau minta dipijit”Jawab Tante Mei.
“Oh bisa Tante”Jawab saya lagi.
Setelah berbincang-bincang Tante Mei mulai bertanya yang macam-macam mulai dari umur, sampai postur tubuh.
“Kamu umur berapa Fer?”Tanya Tante.

“25 Tante, Tante sendiri? Kalo boleh saya tahu”Jawabku.
“Wah, lagi asik-asiknya nich. Kalo Tante sih umurnya 54″Jawab Tante Mei.
“Oo..”Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
“Kenapa? Kaget yach? saya janda dan udah punya cucu 2 yang masih
kecil-kecil, dan saya tinggal sendiri dirumah, cuma sama pembantu.
Postur tubuh kamu seperti apa Fer?”Kata Tante Mei yang sadar kalo aku
agak shock mendengar umurnya sambil bertanya lagi.
“Postur tubuh saya biasa-biasa saja sih Tan, tapi kalo kata cewe-cewe
yang saya kenal kata mereka tubuh saya atletis, padahal saya sendiri
nggak merasa begitu tuh”Jawabku.
“Kalo punya kamu ukurannya berapa?”Tanya Tante Mei lagi.

“Ukuran saya sih biasa ajalah Tan, cuma 15 centian”Jawabku.
“Mmm.. lumayanlah, jadi gimana kamu maukan mijit Tante?”Tanya Tante lagi.
“Mijit yang mana nih Tan? mijit biasa atau mijit special nich Tante?”Jawabku bercanda.
“Yah.. kalo kamu mau sekalian mijit yang special sih.. ha ha ha”Jawab Tante Mei sambil tertawa.
“Mmm.. Emang Tante masih suka begituan yah? Emang udah berapa lama Tante ga gituan?”Tanyaku.
“Gituan yang mana nih? Hi hi hi”Balas Tante menggoda.
“Yang mana yah? He he.. itu loh maksud saya emang Tante masi suka ML?
Emang Tante udah berapa lama nggak ML?”Jawabku memperjelas pertanyaanku
tadi yang sudah pasti dia tahu.
“O.. gituan yang itu, mm.. kalo yang itu sih Tante masi suka cuma, udah
lama nggak ada pelampiasan. Abis udah lama sih, kurang lebih 3-4
tahun”Jawab Tante Mei.
“Wow lama juga yah, trus kalo lagi kepengen Tante ngapain?”Tanyaku.
“Ngapain yah? Mmm.. udah gini aja kamu mau nggak mijit Tante? Kalo mau
nanti Tante kasi tau Tante ngapain aja kalo lagi kepengen. Gimana?
Oke?”Jawabnya.
“Oke, Tante. Tapi dimana saya bisa ketemu Tante?”Tanyaku lagi.
“Kita kehotel aja yah, abis kalo dirumah nggak enak sama pembantu. Tapi ngomong-ngomong berapa biaya mijitnya nih?”Kata Tante.
“Mijit yang mana dulu nih Tante.. he he he”Jawabku bercanda.
“Ah kamu ini, mijit semuanya lah.. berapa?”Tanya Tante lagi.
“Biasa aja deh Tante, abis saya juga baru pertama kali ini terima pijit”Jawabku karena aku juga nggak tahu harga pasarannya.
“Ok deh kalo gitu, kita ketemu dilobby hotel X aja yah”Jawab Tante Mei lagi.
Setelah janjian jam berapa dan bertanya nanti aku dan Tante Mei pake
baju apa biar nggak salah orang maka telponpun ditutup, dan aku hanya
senyum-senyum saja sambil mengingat perbincanganku dengan Tante Mei
tadi, serta membayangkan seperti apa nanti Tante Mei itu.
Setelah mempersiapkan semuanya termasuk mental, sayapun segera
meluncur kehotel”X”yang telah dijanjikan, setelah sampai saya menunggu
dilobby hatel yang besar dan sejuk itu sambil mataku melirik kesana
kemari mencari sosok Tante Mei. Tak lama kemudian seorang wanita
setengah baya melambaikan tangannya kearahku, dan untuk memastikannya
sayapun menunjuk diri saya sendiri dan wanita itu mengangguk, lalu saya
segera menghampiri dia.
“Hallo”Kataku.
“Hallo juga, kamu Ferry kan?”Tanya wanita itu.
“Iya. Tante sendiri Tante Mei-kan?”Tanyaku.

“Iya lah, abis siapa lagi yang bikin janji sama kamu disini?”Jawab Tante Mei sambil tersenyum.
“Ga ada sih Tan, cuma untuk mastiin aja, he he he”Jawabku sambil cengengesan.
Tubuh Tante Mei gemuk dan dari wajahnya terlihat sudah mulai
berkeriput walaupun sudah diberi bedak tebal, tapi cara dia berdandan
dan cara dia memakai baju dengan celana kain yang warnanya sesuai dengan
umurnya sehingga dia tampak anggun.
“Gimana? kecewa nggak? kalo kecewa nggak apa-apa sih, nanti Tante ganti
biaya transport kamu aja. Tante juga belum pesan kamar.”Kata Tante Mei.
“Ah Tante bisa aja, dimana-mana yang namanya customer harus dilayani
sebaik mungkin. Jadi nggak ada kata kecewa tuh buat saya, jangan-jangan
Tante sendiri yang kecewa melihat penampilanku yang biasa-biasa
ini”Jawabku sambil tersenyum.
“Ah nggak juga, saya lebih suka yang berpenampilan seperti kamu, biar ga
keliatan seperti pria penghibur. Abis kalo ketahuan sama teman atau
saudara, kan Tante bisa berabe”Jawab Tante Mei lagi.
Setelah bercakap-cakap sejenak lalu Tante Mei menyuruhku untuk
memesan kamar sambil memberiku sejumlah uang untuk membayar sewa kamar
tersebut. Setelah memesan kamar atas namaku dan membayarnya kamipun
menuju kamar sambil diantar oleh room boy hotel tersebut. Selama dalam
perjalanan menuju kamar kami hanya berbincang-bincang sedikit karena ada
room boy dan beberapa tamu didalam lift tersebut, dan saya pun tidak
memanggil Tante lagi pada dia tetapi”Ai”Karena dia chinese dan saya juga
chinese biar tidak terlalu menyolok. Setelah sampai dikamar dan room
boynya sudah keluar, Tante memesan minuman dan makanan yang ada di
daftar menu melalui telepon. Sambil menunggu makanan datang aku dan
Tante duduk-duduk disofa yang ada dikamar yang besar itu sambil
berbincang-bincang dan menyalakan TV yang tidak dilihatnya sambil
sesekali tangan Tante Mei menggerayangi tubuhku dan senjataku.

“Badan kamu memang seksi loh.. walaupun agak sedikit gemuk, dan punya
kamu juga kayanya besar juga nih, celananya dibuka ya”Kata Tante Mei.
“Buka aja Tan, anggap aja punya sendiri hi hi hi”Jawabku sambil bercanda.
“Ah kamu ini”Jawab Tante Mei sambil mulai membuka celana dan celana dalamku sampai sebatas lutut.
“Hmm.. bener jugakan dugaan Tante punya kamu ini bentuknya kompak, dari
kepala sampai pangkal batangnya, bentuknya bener-bener seksi”Kata Tante
Mei sambil membelai-belai dan mengocok senjataku yang langsung berdiri
tegak dan langsung diserbu oleh kecupan dan dijilat-jilat oleh Tante
Mei.
“Ahh.. Tante enak sekali Tan. Tante hebat deh.. uhh.. enak sekali Tan”Kataku keenakan.

Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan tanganku juga mulai bergerilya
keseluruh tubuh Tante Mei. Kubelai-belai dan kuremas-remas kedua
gundukan didada Tante Mei, sambil kuciumi wajah dan belakang telinga
Tante Mei. Dari telinga lalu kucumbu bibir Tante Mei yang mungil itu,
kamipun bersilat lidah dengan mesra. Lalu kumasukkan tanganku kedalam
bajunya dan kusingkap BH-nya keatas sehingga kedua gundukan milik Tante
Mei langsung keluar. Mungkin karena sudah agak tua gundukan itu sudah
lembek dan tampak sedikit berkeriput, tapi tidak menbuat aku menjadi
malas, karena sudah menjadi tekatku untuk memberikan service yang
terbaik kepada semua pelangganku.
“Ahh.. remas yang kuat sayang, putingnya juga dipilin-pilin yang
kuat.. ahh.. nikmat sekali serasa terbang keawan.. ahh.. kamu pinter
sekali say.. uhh terus yang kuat.. ahh”Kata Tante Mei sambil
mendesah-desah.
Sedang asik-asiknya bercumbu tiba-tiba bel berbunyi dan ternyata room
boy datang membawakan pesanan Tante Mei tadi, dan sambil tergesa-gesa
dan tersenyum-senyum kami berdua merapikan baju kami. Setelah membayar
dan memberi tip, room boypun keluar. Dan Tante Mei langsung menyerbu
bibirku dengan ciuman yang liar dan bergelora sambil memeluk tubuhku.
Kusambut dan kubalas ciuman itu dengan liar dan bergelora sambil
tanganku meremas-remas payudara Tante Mei yang belum masuk kedalam
BH-nya. Sambil tangan yang satu meremas-remas payudara Tante Mei
tanganku yang satu lagi membuka pengait BH dipunggungnya. Tik..
terbukalah sudah pengait BH Tante Mei, dan tanpa melepaskan ciuman yang
sedang hot-hotnya kubuka satu-persatu kancing baju Tante Mei, yang juga
diikuti oleh Tante Mei yang ikut membuka baju dan celanaku.

Setelah baju yang kami pakai lepas semua cumbuan kami lebih bergairah
lagi, dan akupun mulai menyumbui seluruh tubuh Tante Mei atau yang
lebih dikenal dengan sebutan”Mandi kucing”. Ku bimbing Tante Mei ke
tempat tidur dan ku tidurkan dia di tepi tempat tidur yang berukuran
king size itu. Mulai aku cium dan jilati seluruh tubuh Tante Mei dari
atas rambut sampai ujung kaki yang pasti akan membuat Tante Mei mendesah
dan menggelinjang-gelinjang jika ciuman dan jilatanku mengenai bagian
sensitif tubuhnya. Kumulai ciumanku disekitar wajah Tante Mei sampai
kebelakang telinga dan kujilati lubang telinganya serta kusedot-sedot
cuping telinga Tante Mei yang membuat Tante Mei semakin bergairah.
“Ah Fer.. kamu hebat sekali membangkitkan gairah Tante oh.. enak sekali cumbuan kamu Fer”ujarnya sambil mendesah-desah.
Tangan Tante Mei mulai menggapai-gapai senjataku dan mengocok-kocok senjataku, dengan lembut kusingkirkan tangannya.
“Jangan dulu ya Tan.. sekarang Tante nikmati saja semua yang akan saya
lakukan pada Tante”Kataku didepan telinganya sambil menghembuskan
nafas-nafas erotis yang makin membuat Tante Mei melambung ke
awang-awang.
“Ouh.. Fer.. suara kamu seksi sekali sayang dan hembusan nafas kamu
semakin membuat Tante bergairah.. ouhh.. sayang, Tante akan menuruti
semua keinginan kamu sayang asal kamu terus membawa Tante keawang-awang
seperti ini”Jawab Tante Mei.

Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Tante Mei, lalu ciumanku mulai
turun menuju lehernya ciuman dan jilatanku mengelilingi leher Tante Mei,
tak ada sedikitpun daerah yang lepas dari ciuman dan jilatanku.
Tanganku pun tidak pernah diam membelai dan megusap bagian tubuh Tante
Mei yang lainnya mulai dari dada sampai lengan dan paha semuanya kubelai
dengan lembut dan erotis untuk menambah gairah Tante Mei. Lalu tangan
Tante Mei membimbing tanganku kearah dalam bagian pahanya, akupun
mengerti maksud dari Tante Mei tadi, aku angkat tangan Tante Mei keatas
sehingga ketiaknya terpampang lebar dihadapanku. Tanpa membuang waktu
langsung kucumbu ketiak Tante Mei yang berbulu halus dan rapi, dan
langsung membuat Tante Mei memeluk erat kepalaku.
“Ahh.. gila kamu Fer, pintar sekali cara kamu mencumbu Fer.. ahh.. ga
pernah aku merasakan cumbuan seperti ini.. uhh.. sedot yang kuat Fer,
yang kuat, gigit.. uhh.. gigit ketiakku sayang.. ahh..”Kata Tante Mei
sambil mendesah-desah dan menekan kepalaku kuat-kuat ke ketiaknya yang
beraroma khas wanita.
Sambil mencumbu ketiak Tante Mei tanganku membelai leher dan kupingnya,
lalu turun kedada dan meremas-remas kedua gunung dan ujung gunungnya
yang mengeras karena napsu. Ciuman dan jilatanku pun mulai berpindah
menuju kearah lengan bagian dalam, kujilati lengan itu dari bawah keatas
dan kembali lagi kebawah, lalu menuju kearah dadanya. Setelah bermain
sesaat di dada, tanganku turun lagi menuju perutnya dan aku usap-usap
perut Tante Mei sambil memainkan lubang pusarnya, sedangkan cumbuanku
mulai menuju ke kedua gunung payudaranya. Kuciumi dan kujilati dengan
ujung lidahku payudara Tante Mei dari pangkal menuju putingnya secara
berputar menggunakan bibir dan lidah. Dan saat mencapai puncak payudara
kusedot-sedot dan kujilat-jilat puting payudara yang sudah mengeras itu.
Dan seperti ketika aku mencumbu ketiaknya, Tante Mei juga menekan
kepalaku dan meremas-remas rambutku sambil menggigiti bibirnya sendiri
dan mendesah-desah keenakan.

“Ahh.. sedot putingku yang keras Fer yang keras sampai copot.. ahh..
iya seperti itu.. ohh.. enak sekali say.. ohh..”Kata Tante Mei
mengajariku.
Kuperlakukan kedua payudara itu sebaik mungkin dan selembut mungkin
sehingga menambah rangsangan-rangsangan yang dapat membuat Tante Mei
tambah melambung tinggi. Kemudian tanganku turun lagi menuju paha bagian
dalamnya, dan kubelai-belai paha bagian dalam itu dengan lembut
menggunakan ujung jari-jariku yang menimbulkan rasa geli-geli nikmat
yang menambah rangsangan pada Tante Mei.
“Ohh.. Fer.. belaian kamu dan cumbuan kamu.. ohh.. semuanya membuat
Tante tambah melayang keawang-awang Fer.. ahh.. benar-benar pintar cara
kamu merangsang wanita Fer.. uhh”Kata Tante Mei.